Testimoni Bp Sudirman Petani Jagung di Jeneponto, Sulawesi Selatan

Pak Sudirman adalah petani jagung yang sudah mengaplikasikan pupuk Pucamadu pada tanaman jagungnya di desa Punagaya, Jenepeto, Sulawesi Selatan. Pak Sudirman menjelaskan dia sudah menggunakan Pucamadu dari saat tanaman berumur satu bulan sampai kurang lebih dari 50 hari. Pak Sudirman menyorot hasil positif, seperti tumbuh tanaman yang seragam dan tanaman jagung lebih tinggi dibandingkan dengan panen sebelumnya tanpa pupuk Pucamadu. Selain itu, ia mencatat peningkatan ukuran jagung dan hasil panen keseluruhan. Pak Sudirman juga menyebutkan berkurangnya penggunaan urea dan pupuk NPK yang berdampingan dengan Pucamadu, menegaskan keterjangkauan dan efektivitasnya penggunaan pupuk Pucamadu. Beliau juga menjelaskan bahwa metode pertanian dengan Pucamadu ini berpotensi untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi bagi petani.

Cara Aplikasi Tanaman Semusim dengan Pupuk Hayati Pucamadu

Berikut ini adalah proses uji coba aplikasi pupuk organik Pucamadu pada berbagai jenis tanaman seperti jagung, kentang, padi, dan sayuran, yang dilakukan oleh beberapa petani di daerah Temanggung, Indonesia. Produk Pucamadu diaplikasikan dengan cara disemprotkan dan dicampur dengan air menggunakan berbagai dosis yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan luas area lahan. Dalam video, petani mencoba berbagai metode aplikasi, mulai dari penyemprotan dengan dosis pengenceran 1:100 hingga pemberian langsung pada lubang tanam dengan dosis sekitar 100 ml pupuk cair dicampur air dalam jumlah tertentu. Hasil awal menunjukkan potensi pupuk tersebut dalam mendukung pertumbuhan tanaman secara organik dengan biaya yang relatif murah dan tanpa perlu pupuk kimia tambahan seperti MPK. Dengan hasil ini, pupuk Pucamadu bisa menjadi solusi berkelanjutan untuk pertanian ramah lingkungan dan efisien dari sisi biaya.

Pucamadu Dilengkapi Dengan Hormon FLORIGEN

Hormon Florigen adalah sebuah hormon yang dapat memacu pembungaan dan meningkatkan hasil panen buah-buahan. Hormon tersebut terkandung dalam pupuk cair hayati Pucamadu, yang telah digunakan secara rutin pada beberapa tanaman seperti cabai besar, kopi, jeruk, dan sawit. Para petani yang menggunakan Pucamadu melaporkan hasil positif berupa buah yang lebih besar, lebih banyak, daun yang lebih lebat, dan buah yang tidak mudah rontok atau rusak. Selain meningkatkan kualitas dan kuantitas panen, pupuk Pucamadu juga mempercepat proses pembungaan dan membuat rasa buah menjadi lebih baik, misalnya jeruk yang menjadi lebih manis. Kesimpulannya, penggunaan Pucamadu sebagai pupuk organik dan hormon fluorigen yang dikandungnya memberi dampak signifikan dan positif pada produktivitas pertanian, serta mendapat sambutan baik dari petani yang telah mencobanya.

Fungsi Bahan Aktif AZOTOBACTER dan PSEUDOMONAS sp

Pucamadu yang mengandung bahan aktif mikroba fungsional seperti Azotobacter dan Pseudomonas SP. Azotobacter berperan sebagai bakteri pengikat nitrogen dari udara, sehingga membantu peningkatan kesuburan tanah dan hasil panen padi. Penggunaannya mampu mengurangi kebutuhan pupuk kimia seperti urea hingga 50%, sekaligus meningkatkan hasil panen padi dua kali lipat pada luas lahan yang sama. Pseudomonas SP berfungsi memperbaiki kondisi pH tanah yang asam akibat aktivitas pupuk kimia dan unsur sulfida di tanah vulkanik Indonesia, sehingga pH tanah kembali mendekati normal (pH 6-7). Tanah dengan pH rendah menyebabkan penyerapan unsur hara berkurang drastis, sehingga tanaman mengalami kekurangan nutrisi meskipun pemupukan sudah sesuai dosis.

Dengan Pucamadu, kebocoran unsur hara di tanah yang sering dibandingkan dengan ember bocor dapat diminimalisasi. Selain itu, aplikasi Pucamadu juga meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit melalui stimulasi produksi senyawa metabolit sekunder seperti fenolat dan flavonoid, yang berfungsi sebagai antibiotik alami tanaman. Testimoni petani menunjukkan tanaman menjadi lebih sehat, buah lebih banyak dan berkualitas, dan biaya pupuk kimia berkurang signifikan. Secara keseluruhan, Pucamadu membantu memperbaiki kesuburan tanah, mengurangi penggunaan pupuk kimia, meningkatkan hasil dan kualitas tanaman, serta memperkuat ketahanan tanaman secara organik.

Kunjungan Ke Petani Pengguna Pucamadu Bogel, Panjatan, Kulon Progo

Pada kesempatan kali ini kita akan berkunjung ke lahan tanaman berpasir Pak Musdi di Bogel, Panjatan, Kulom Progo. Menurut mas Joko petani setempat, sebelum aplikasi Pucamadu, tanaman cabe sering terserang penyakit layu fusarium dan layu bakteri. Setelah diaplikasikan Pucamadu, tanaman cabe menjadi lebih subur dan tahan terhadap penyakit seperti pada video berikut ini.